Selasa, 26 Juni 2012

0 Cra bagi hasil antara punggawa dan sawi


I  PENDAHULUAN

Bertenak udang windu terrmasuk budidaya perikanan di air payau. Budidaya perikanan air payau di Indonesia telah lama dimulai, sejak beberapa ratus tahun yang lalu. Di samping ikan akhir-akhir ini banyak  banyak  petani tambak yang mengalihkan usahnya pada budidaya udang,hal ini dapat di mengerti karena usaha pemiliharan udang windu (Penaeid) dapat mencapai 8 ton ha tiap tahun, sedangkan di Indonesia produksi tertinggi yang dapat di capai baru 1 ton tiap tahun.
Bebrapa factor yang membatasi produksi udang di Indonesia ini, antara lain terbatasnya benih karena mengharapkan dari alam dan tehnik budidaya yang masih menggunakan cara tradisional.
Kini telah dikembangkan tehnik budidaya udang sacera terkontrol, yaitu budidaya udang semi intensif dan secara intensif. Pada budidaya udang secara tradisioonal, jenis udadang yang dipelihara atau ditebarkan iyalah dari jenis tertentu dari  hasil pengkapan di alam atau hasil pembibitan dalam jumlah tertentu dalam masa pemeliharaan  udang-udang tersebut di berikan makanan tambahan baik berupa makan alami dan pakan buatan, dilakukan pula tehnik pengendalian hama dengan  demikian produksi yang dicapai akan lebih tinggi jika dibandikan dengan cara tradisioonal. (Suyanto.I.F, 1981)

http://www.kkp.go.id/public/upload/2_2.JPGProfil Desa
Kabupaten Sidoarjo terletak pada daerah Delta Brantas, Jawa Timur. Kabupaten Sidoarjo merupakan kabupaten terkecil di Jawa Timur dengan luas 627 km². Kegiatan ekonomi Kabupaten Sidoarjo menampilkan dua wajah. Di satu sisi kabupaten itu identik dengan tambak yang luasnya mencapai 15.530 ha (5,28 km2) milik sekitar 3.300 petambak. bandeng dan udang kemudian dijadikan lambang Kabupaten Sidoarjo. Beberapa kecamatan di Sidoarjo yang banyak memiliki lahan tambak antara lain Kecamatan Sidoarjo, Jabon, Buduran, Candi, Tanggulangin dan Sedati. Sekitar 90% petambak menerapkan metode pemeliharaan udang dengan teknik tradisional, sisanya menggunakan teknik semi-intensif.

II  PEMBAHASAN

2.1.  Penentuan lokasi
Dalam menentukan lokasi untuk pengembangan pemeliharaan udang windu sebagai berikut :
-     di Keadaan populasi di perairan seekirnya, populasi harus cukup padat dan tersedia sepanjang tahun.
-     Keadaan perbedaan pasang surut harus cukup tingggi.
-     Jarak lokasi dari pantai maksimal 1 km, lokasi harus terlindungi dari gangguan ombak, hutan bakau selebar 15 meter dapat melindungi tambak dari gangguan ombak. 
-     Tekstur tanah dasar hendaknya terdiri dari tanah liat yang memadat dengan endapam debu atasnya tidak terlalu tebal.
-     Agar garam (salinitas) air yang masuk kedalam tambak harus tidak kurang dari 18 per mil, yang optimal iyalah antara 24-30per mil.

2.2    Konstruksi tambak
-     Tambak yang baik haruslah memenuhi persyaratan
-     Pematang harus  mampu menahan tekanan air yang disebabkan oleh adanya perbedaan tinggi air dalam dan di luar tambbak.
-     Pematang harus cukup tinggi untuk menghindarkan terjadinya peluapan air yang disebabkan oleh banjir atau pasang tertinggi.
-     Pematang harus cukup lebar, untuk memudahkan kegiatan.
-     Tambak harus mempunyai pintu pintu pemasukan  pengeluaran air yang cukup, baik dalam jumlah maupun lebarnya sehingga akan memudahkan dan mempercepat keluar masuk air.
-     Pemasangan pintu air harus menjamin masuknya air secara leluasa tanpa menimbulkan terjadinnya  perputaran atau  pergolaran air di sekitar pintu.
-     Saluran air harus bersi dari tumbuhan air dan kotoran lainya.
Dasar tambak harus  melereng kearah pintu air dan mempunyai saluran keliling yang dapat memudahkan mengalirnya air ke seluruh bagian tambak.( Brandt,A VOA.  1960)
a.  Pematang Tambak
Pematang tambak terdiri dari pematang utama dan pematang antara.
Pematang Utama:
-     Lebar bagian atas  2 meter atau lebih
-     Tinggi dilebihkan 1 meter  di atas tinnggi air pada waktu pasang tertinggi atau banjir rutin.
-     Sudut lereng sebelah dalam tg =  dan sudut lereng sebelah dalam tg =
Pematang Antara
-     lebar bagian atas 0,7  meter – 1,5 meter
-     sudut lereng tg = 2/3 atau tg = 1
-     pematang utama harus terbuat dari dari tanah liat berpasir atau tanah liat berdebu atau tanah liat yang telah memadat dan mengeras serta tidak tecampur ranting, batang atau kayu yang mudah membusuk.
b.  Pintu dan saluran air
Pada setiap unit tambak diperlukan dua macam pintu air  yaitu pintu  air utam yang dipasang di depan saluran pembagi air dan pintu air petakan  untuk memasukan air dari saluran pembagi kedalam petakan tambak atau sebaliknya.
Letak saluran air dan petak-petak harus di atur sehingga sistem pengairan tiap-tiap petakan tidak tergantung satu sama lain. Dengan demikian petakaan tambak  harus di keringkan atau diairi sendiri tanpa menggangguu petakan lain.
Pintu utama yang berfungsi mengatur perairan seluruh unit tambak harus cukup kuat, untuk satu unik tambak seluas 10 ha, lebar mulut pintu air utama antara 0,8 meter-1,2 meter, tinggi 2-3 meter dan panjang 5-6 meter tergantung pada tinggi  dan lebar petambak. (Ismail,A , 1983 )

2.3    Penyediaan benih
a)  Benih Udang Alami
Tempat penangkapan meliputi tepi pantai, saluran-saluran air, sungai kecil dan sungai besar bahkan jauhnya beberapa kilometre dari muara.
Musim penangkap benih udang sama waktunya musim menangkap  nener bandeng yaitu antara September, januari dan bulan april – Mei.
Umumnya tepi pantai yang banyak terdapat benih udang iyalah yang landai dengan dasar pasir atau   pasir berlummpur disekitar muara sungai. Hasil tangkapan di daerah ini lebih seragam ukuuranya dan umumnya masi stadi post larva muda berukuuran 9-15 mm berwarna merah kecoklat-kecoklatan.
Di saluran-saluran air dan sungai, benih yang tertangkap berukuran 0,15-70 mm, merupakan campuran stadia post larva dan tokolan (juvenile).
Tangkaplah beni udang sewaktu terjadi air pasang dengan menggunakan seser atau seser berkantong. (Anonim, 1:1980)
Penangkapan dapat pula menggunakan rumpon, yaitu daun-daun pisang atau rumput yang sudah kering yang di ikat menjadi satu ikatan dan dipasang pada pada tongggak kayu di tepi sungai atau saluran air. Tamping hasil tambak di dalam temppatt penampungan sementara. Selanjutnya lakukan seleksi atau ppemisahan jjenis udang winndu saja yang nantinya akan di pelihara di tambak.
b)  Beni udang hasil pembibitan
Untuk mendapatkan benih udang yang bermutu baik dengan jumlah yang banyak, ada dua tahapan kegiatan yang harus dilakukan, yaitu penangkapan induk-induk betina yang telah matang telur dilaut dan pembibitan yang meliputi langkah-laangkah persiapan pemetasan, pemeliharaan larva, penetasan, perawatan larva, dan pemungutan hasil. (Anonim, 1:1980)

2.4  Tehnik Pngelolahan
a. pembuhan klekap
-     Pada pemeliharaan udang windu juga harus menumbuhkan klekap untuk makanan alami.
-     Setelah pengelolahan tanah selesai, keringkanlah tambak berhasil tidaknya klekap tumbuh dengan baik sampai tanahnya retak-retak.
-     Tingkat kekeringan dasa tambak sangat menentukan berhasil tidaknya klekap tumbuh dengan baik.
-     Setelah kering, teburkanlah pupuk.pupuk yang digunakan yaitu urean atau ZA sebanyak 50-100 kg per ha.
-     Bila pemupukan telah selesai, tambak diisi air baru. Pengisian dilakukan secara perlahan-lahan hati-hati sampai pada ketingggian air di dalamm  tambak  mencapai 10 cm. (Subyakto,1981)
b. penebaran benih
-     Penebaran benih di lakukan setelah kelekap tumbu subur di seluruh permukaan air (2-3 minggu setelah pemupukan) dan air dalam tambak telah mencapai kedalaman kurang lebih 50 cm.
-     Penebaran benih harus dilakukan secara merata di seluruh tambak agar tidak memadat di suatu tempat..
-     Lakukanlah penebaran pada sore atau pada pagi hari karena pada keadan tersebut suhu air relative rendah sehingga tidak melnimbbulkankan tekanan pada udang.
-     Untuk lebih mecegah lagi gangguan tekanan (steress), sebaiknya sebelum di tebarkan, beih-benih udang diaklimatisasikan dengan air tambak.
c. pemberantasan hama
-     Beberapa jenis  hama yang sering merugikan adalah ikan buas baik sebgai predator, penyain makanan, kepiting, ular air,burung bangau dan anjing air
-     Cara pengendalian iyalah dengan jalan mengeringkan petakan tambaksehingga semua hama mati.
-     Bila tambak  sulit atau tidak bisa di keringkan sama sekali,maka pengendalian hama dapat dilakukan menggunakan bahan organic. 
-     Dosis brestan 60 iyalah  per ha,thiodang 0,2 ppm, (Satyani, 1981)

2.5    Pemaneman  Atau Pemungutan Hasil
Untuk memanen udang yang sudah mencapai ukuran konsumsi dapat di lakukan dengan dua  cara yaitu secara bertahap dan secara sekaligus. Usahakan lah udang terpanen dalam keadaan hidup untuk  memudahkan terjamminnya pemasaran dan harga.  Karena itu pemamneman harus di lakukan secara hati-hati.
1.  Pemaneman secara bertahap
-       Dengan cara ini pemaneman dilakukan dengan menggunakan bubu atau perayang yang terbuat dari belahan-belahan bambu.
    Alat ini terbagi menjadi 2 bagian yaitu perangkap yang berbentuk jantung dan pengarah yang berbentuk pagar memanjang.
-       Lakukan penangkapan pada malam hari yaitu pada saat udang-udanng besar sedang berusaha mencari jalan keluar untuk kembali ke laut dengan menyesuri pematang.
-       Alat penangkapan dipasang di tepi pematang tambak dengan bagian pengarah terletak tegak lurus pada pematang dan ujung lainnya tepat berada di mulut perangkap.
-       Dengan alat-alat ini, udang –udang kecil yang tertangkap dapat dilepaskan kembali
-       Cara lainnya dengan menggunakan jala.
2.  Pemaneman secara sekaligus
-       Pemaneman sekaligus dimaksudkan untuk menangkap seluruh udang yang dipelihara. Sehingga tambak dapat digunakan kembali untuk memelihara udang.
-       Caranya dengan mengeringkan petakan tambak air yang ada hanya dibagian saluran keliling saja.
-       Giringlah udang dengan menggunakan jaring atau wide (kere) kedepan pintu air.
-       Udang yang tertinggal atau membenamkan diri, di tangkap dengan tangan satu persatu.
-       Bila semua udang sudah terkurung  dan berada di depan pintu air,   masuklah air baru.
-       Dengan menggunakan alat penyidik, tangkaplah  udang dan segera tampung di air yang bersih.
-       Pemaneman sekaligus ini sebaiknya dilakukan pada saat yang tepat yaitu 2-3 hari setelah air pasang.

2.6    Analisa Usaha
Sebagai bahan perbandingan terhadap jenis usaha tani lainya, berikut ini disajikan pula perhitungan biaya dan hasil yang diperoleh  dari usaha pemeliharaan udang.
1)  Perhitungan usaha  pemeliharaan udang seluas 5 ha dengan sistem monokultur.
a.  Biaya infestasi
-       Pemetaan, profile tambak dll                     Rp.          200.000
-       Pembuatan pematang                                Rp.                  4.000.000
-       Pembuatan pintu air                                   Rp.      1.000.000
-       Perataan pematang, saluran
Keliling, dan pelataran                                     Rp.          1.500.000   
                                    jumlah                                     Rp.      6.700,000

b.  Modal  kerja
-       Benih udang                                               Rp.          2.360.000
-       Pakan                                                         Rp.          2.500.000
-       Pemberantasan hama                                Rp.            200.000
-       Perawatan dan panen                                Rp.            500.000       
jumlah                                     Rp.      5.200.000
                                                total  biaya                 Rp.      11.900,000
c.  Hasil Semusuim/ Siklus
-       Hasil udang 3000 kg x Rp. 25.000             Rp.        75.000.000
-       potonga pengeluaran,                                 Rp.         11.900,000
                                    keuntungn bersih                                Rp. 63.100,000            

POLA BAGI HASIL TAMBAK BUDIDAYA UDANG WIDU TEKNOLOGI SEMI  INTENNSIF
DESA JABON KEC. SIDOARJO KAB. JABON
           
Juragan/orang yang punya lahan dan modal             : 70 %
Pekerja(sawi)                                                              : 30 %
Jumlah                                                                                    : 100 %
Jadi keuntungan pada Semusim adalah
Kotor                                                               :   75.000,000 – 11,900,000   
Jadi bersinya sama  degen                             Rp 63.100,000
Pembagian :
Juragan/orang yang punya lahan dan modal :
                                                                         Rp 44.170,000
Pekerja(sawi)                                                  :
                                                                         Rp 12.620,000
 


III  PENUTUP


3.1    Kesimpulan
Budidaya  udang semi  intensif Dari hasil kajian penerapan budidaya udang windu dapat di simpulkan sebagai berikut :
Penerapan BMP dengan melakukan persiapan wadah, persiapan air, pemilihan benih yang baik, pengelolaan air untuk mempertahankan pada nilai kisaran yang layak dan tidak berfluktuatif serta mangemen yang baik mampu menghasilkan produksi udang windu.
            Bagi hasil yang di terapkan petani tambak di desa jabon KEC, sudoarjo, menerapkan bagi hasil dengan cara  30% buat petani tambak (sawi) dan 70%  juragan atau pemilik  tambak.
3.2    Saran
Adapun saran dari hasil kajian adalah, perlu dilakukan kajian ulanga budidaya udang windu di beberapa kawasan tambak sederhana. Dengan cara ini merupakan usaha dalam memperbaiki teknologi dan sekaligus untuk menyebarluaskan atau desiminasi pada pembudidaya.













Daftar  Pustaka

Anonim 1.1980, pp9: Pembenihan Udang Galah (Imacrobrachium rosenbergii deman) Skala Kecil. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian,Jakarta. Makalah  Tehnik Pertanian.
Brandt,A, VON. 1960: fising methods in world scientific meeting on the biology of sardines and related species. Rome Vol.II F.A.O.
Emmawati,L,1981,pp1: Fisiologi Udang Galah, Sub Balai Penelitian Perikanan Darat Depok-Laboratoriumm Pembenihan Udang Galah Pasar Mingggu, Jakarta.
Hadie.W. 1981,pp1 : Seleksi Induk Udang Galah. Sub Balai Penelitian Perikanan Darat Depok-Laboratorium Pembenihan Udang Galah Pasar Minggu, Jakarta.
Hadie.W. dan E.Hamawi 1981,pp5: Kualitas Air Media Larva Udang Galah. Sub Balai Penelitian Perikanan Darat Depok-Laboratorium Pembenihan Udang Galah Pasar Minggu, Jakarta.
Ismail , A. 1981 : Tehnik Pembenihan Udang Gala ( macrobrachium rosenbergii  de Man) di dalam air payau jerni di  AQUACOP ( tahiti-polynesia Francaise). Laporan Training,Badan Litban Pertanian, Puslitkan,Balai Penelitian Perikanan Darat Bogor.
Satyani,D. 1981, pp.2. : biologi Udang Galah I. Sup Ballai Penelitian Perikanan Darat Depok-Labolaterium Pembenihan Udang Galah Pasar Mingguu,Jakarta.
Satyani,D. 1981, pp.2 : Hama dan Penyakit Udang Galah. Sub Balai Penelitian Perikanan Darat Depok-Laboratorium Pembenihan Udang Galah Pasar Minggu, Jakarta.
Subyakto.I.F. 1981, pp.2.: Methoda Makan Buatan Larva + Juvenil Udang Galah. Sub Balai Penelitian Perikanan Darat Depok Laboratorium Pembenihan Udang Galah Pasar Minggu, Jakarta.
Suyanto.R.1981,pp.2.: Budidaya Udang Galah. Sekolah Usaha Perikanan Menengah Bogor.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Prikanan Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates